Dari rencana dokter kandungan gw, hanya ada 3 tahap untuk pemeriksaan infertiliti terhadap gw. Tapi ada satu pemeriksaan lain yang diperlukan, dan itu dillakukan terhadap Hamdan sebagai pihak suami : analisa sperma.
Sebenernya sih tes sperma ini nggak dimaksudkan sebagai pemeriksaan terakhir, karna sang dokter memberikan instruksinya bersamaan dengan mulainya gw menjalani pemeriksaan pertama. Keterbatasan waktulah yang membuat Hamdan baru bisa memeriksakan spermanya setelah gw selesai melewati semua jenis pemeriksaan : indung telur, hormon, dan tuba falopii / saluran telur.
Tes sperma itu bukan yang pertamakalinya bagi Hamdan. Karena pekerjaannya yang beberapa kali pernah mengharuskannya berdekatan dengan zat radioaktif, terakhir ia mengikuti pemeriksaan serupa adalah kira-kira dua tahun lalu (bagian dari general medical check up tahunan yang distandarkan oleh perusahaannya).
Dan....dokter gw pun sempat nggak percaya waktu gw cerita, Hamdan udah pernah tes sperma sebelum nikah. ”Nggak mungkin! Mana ada laki-laki belum nikah yang mau ngejalanin tes sperma,”
Lho, lho...itu maksudnya apa yaa. Apa maksudnya laki-laki nggak mau ketauan kualitas kemampuan bereproduksinya sebelum nikah? Atau biasanya mereka nggak mau ketahuan bisa mengeluarkan spermanya secara sengaja?
Sang dokter baru terdiam waktu gw menjelaskan bahwa itu memang standar cek kesehatan dari perusahaan tempat Hamdan bekerja (walau sepertinya masih nggak percaya).
Dan dari Hamdan, gw baru benar-benar mengerti... ternyata tes sperma itu sama sekali bukan pemeriksaan yang membanggakan buat kaum lelaki. Apalagi kalo melakukannya di laboratorium umum seperti Prodia, Medika Plaza, dll. Bayangkan aja, katanya, keluar dari toilet umum yang disediakan, menuju meja petugas dengan melewati sejumlah pasien lain yang akan menjalani pemeriksaan yang berbeda-beda, sambil membawa majalah-majalah porno kucel dan segelas sperma yang telah dihasilkan.
Hmm. Sepertinya seenggak enak apapun tes HSG kemaren, gw tetap bersyukur dilahirkan sebagai seorang perempuan.
Untunglah kali ini Hamdan menjalani tesnya di klinik khusus infertiliti, satu bagian yang biasanya selalu ada di semua rumah sakit ibu dan anak (nama yang aneh, apa harusnya ada rumah sakit ayah sekalian ya..). Ini adalah instruksi dari dokter gw, yang menginginkan hasil tes sperma itu dianalisa langsung oleh dokter spesialis androloginya (kalau di lab, hanya dapat hasil hitungan sang petugas lab).
Dari 2 pilihan rumah sakit, kecocokan waktu membuat kami akhirnya kembali memilih RSIA Hermina Jatinegara. Bagian infertiliti ada di lantai 4, dan tersedia klinik khusus pengambilan sperma : ruangan lab, lalu ruang terpisah untuk pasien melakukan pengambilan sperma (berpintu & tersedia kunci, tentunya) yang terdiri atas kamar & kamar mandi. Sungguh privacy yang menyenangkan, kalau dibandingkan dengan laboratorium umum.
Oya. Untuk menjalani tes ini, ternyata nggak bisa sekonyong-konyong dateng kapan aja. Umumnya klinik tes sperma buka pagi sampai siang hari (08.00 – 12.00, bahkan kadang ada yang hanya sampai pukul 10.00). Alasannya (sumber: nyokap gw), sperma yang dihasilkan biasanya lebih berkualitas pada pagi hari.
Lalu, syarat lainnya untuk menjalani tes ini adalah... sang pasien harus puasa melakukan hubungan suami istri atau tidak boleh mengeluarkan spermanya selama 3 sampai 5 hari sebelum tes. Awalnya gw cuma ngerti batas minimalnya. Mudah dimengerti, kalau kurang dari itu mungkin jumlah sperma yang diproduksi tidak akan banyak. Tapi untuk apa batas maksimal? Kenapa mesti dibatasi juga? Bukannya lebih lama puasa lebih bagus? Jawabannya, ternyata bukan hanya jumlahnya yang penting. Dari tes ini, kita akan mendapatkan hitungan : volume dan konsentrasi sperma, jumlah sperma dengan kecepatan berenang tertentu (lurus/cepat, belok-belok/lambat, sampai tidak bergerak), dan morfologinya. Nah....ternyata, nggak mengeluarkan sperma terlalu lama (terlalu lama puasa) juga nggak baik, karna akan menyebabkan banyaknya jumlah sperma yang tidak bergerak (mati). Jadi itulah kenapa dokter menyarankan suami isteri yang ingin berketurunan untuk berhubungan seks secara rutin, tidak terlalu sering tapi juga tidak terlalu jarang!
Setelah syarat terpenuhi (biaya tes sebesar Rp 150.000 juga sudah lunas), sang pasien pun dipersilakan memasuki ruang pengambilan sperma. Caranya nggak usah dijelaskan lah ya. Semua laki-laki dewasa pasti tahu cara mengeluarkan sperma mereka tanpa harus berhubungan seks dengan pasangannya. Tapi yang jelas, pria yang sudah menikah punya privilege : boleh mengabaikan majalah porno yang telah disediakan dan sebagai gantinya, memboyong sang istri ke kamar pengambilan sperma itu.
Begitu sample sperma diperoleh dan diantarkan ke bagian lab dalam waktu kurang dari 5 menit setelahnya, bagian yang paling membosankan bagi kami adalah menunggu giliran konsultasi dengan dokter spesialis androloginya. Hasil tesnya sendiri (hasil hitungan lab) sudah selesai sebelum setengah jam. Hamdan selesai tes sekitar jam 9 pagi, sementara dokternya baru dateng jam 10.30 dan karna kami baru daftar pagi itu juga (nggak tau kalo harus daftar dulu dan baru tau kalo si dokter cuma praktek sekali seminggu), kami mendapat nomor antri ke-12. Sigh.
Gw mengisi waktu yang terlalu luang itu dengan bolak-balik naik turun lantai 4 – lantai 1 tanpa lift: daftar untuk konsultasi selanjutnya ke dokter kandungan gw, cari kado bayi untuk temen, sampe sekedar jalan-jalan aja...ngeliatin bayi-bayi yang berseliweran dalam gendongan ibunya.
Waktu balik ke lantai 4, masih ada 6 nomer antrian lagi sebelum giliran kami dan kata si suster, keenam pasien itu udah hadir semua (jadi nggak mungkin kami dipanggil duluan untuk ngisi kekosongan). Gerah dan geram, gw ke toilet tanpa terburu-buru sama sekali. Keluar toilet, gw kehilangan Hamdan.
Suami gw nggak ada di kursi tunggu. HPnya nggak bisa dihubungin (sebelum gw masuk toilet, batrenya sekarat). Turun ke lantai 3, di tempat jualan majalah yang sempat diliriknya maupun di tempat jual makanan juga nggak ada. Gw pun kembali ke lantai 4 sambil menatap ruang si dokter dengan penuh kecurigaan, sampai seorang suster memberitahu gw, “Bu, suaminya sudah selesai, kayaknya sudah turun ke bawah tadi...”
Gw menemukan Hamdan lagi di apotek (sebagian dari obat yang diresepkan tidak didapatnya dan kami berencana mencarinya di apotek luar rumah sakit), menanyakan pendapat dokter, lalu menyatakan betapa gw sangat sangat sangat menyesal nggak ikut menemaninya konsultasi. Oke, bukan hanya karna “gw-nggak-menemani”. Tapi juga karna sedikitnya informasi dari dokter yang diceritakan Hamdan. Dalam hati gw pun berjanji, gw harus ada di setiap sesi konsultasi selanjutnya dengan dokter manapun yang kami temui. Sikap kritis, cerewet dan tidak mudah puas yang gw miliki mungkin merupakan kelebihan gw dari Hamdan dalam kasus-kasus semacam ini.
***
Konsultasi berikutnya dengan dokter kandungan gwlah yang menutupi kekecewaan gw. Pada sesi ini, dokter yang merupakan teman nyokap dan seolah udah menganggap gw anaknya sendiri ini tidak melakukan pemeriksaan apapun lagi (terakhir ketemu beberapa hari setelah gw tes HSG karna gw mengalami pendarahan seperti menstruasi lagi, sehingga beliau kembali melakukan pemeriksaan usg transvaginal). Gw dan Hamdan kali ini datang menunjukkan hasil-hasil tes kami, dan beliau mengomentarinya satu persatu.
Semua hasil tes gw sebetulnya sudah diketahui sebelumnya, tapi hasil tes hormon di UI belum pernah gw tunjukkan langsung (baru via sms oleh nyokap dan setelah itu gw lupa bawa kertas hasil tesnya waktu konsutasi). Maka kali ini, barulah sang dokter melihat dengan jelas keseluruhan hasil tes hormon itu.
”Benar, berarti, kamu nggak subur,” komentar sang dokter, mengulangi komentarnya yang dulu juga sudah pernah ia ucapkan.
Gw mengernyit. ”Maksudnya nggak subur itu, saya nggak menghasilkan sel telur sama sekali atau gimana, Om?”
”Kalau begini sih, bukan nggak menghasilkan sama sekali...”
Dalam kondisi normal, seharusnya jumlah hormon progresteron dari tes hormon itu adalah 6 – 24 ng/ml. Hasil yang gw peroleh hanya 1,4 ng/ml. Jika anovulasi (benar-benar tidak menghasilkan sel telur sama sekali), angka yang diperoleh adalah 0. Dalam kasus gw, berarti sel telur itu ada. Namun diduga, setelah dilepaskan, sel telur tesebut tidak pernah mencapai fase dimana inti sel telur meninggalkan corpus luteumnya dan dapat dibuahi. Dokter gw menyebut istiah awamnya : telurnya bantet. Gw yang nggak pengen disamakan dengan kue bolu mengusulkan : tidak matang dengan sempurna? Dan sepertinya sang dokter nggak berkeberatan.
Lalu menurut dokter, kasus gw bukan kasus yang nggak ada solusinya. Terapi penyubur bisa diberikan untuk memicu dihasilkan lebih banyaknya sel telur, dengan harapan memperbesar peluang telur yang bisa dibuahi. Namun efek sampingnya adalah dapat terjadi kehamilan kembar. Hal ini mungkin disenangi beberapa pasangan, tapi bagi dokter, bagaimanapun kehamilan kembar adalah kehamilan abnormal dengan resiko yang lebih tinggi daripada kehamilan biasa.
Anjuran di atas (terapi penyubur) sebenarnya gw dapatkan dari sesi konsultasi sebelumnya, tapi waktu itu Hamdan belum sempat tes sperma dan sang dokter berkata, ”...tapi kondisi suami juga harus OK sebelum kamu boleh dikasih obat penyubur itu,”
Dan alasan lengkap di balik semua itu baru gw dapatkan di konsultasi terakhir ini. Hasil tes sperma Hamdan (yang dua kali sebelumnya sampai tahun lalu selalu normal) kali ini menunjukkan keabnormalan pada morfologinya.
Dari sejumlah sperma yang dihasilkan, seharusnya terdapat 30% atau lebih sperma dengan morfologi (bentuk) yang normal. Yang dimaksud dengan normal di sini adalah bentuk lengkap- terdiri atas kepala dan ekornya. Hasil tes suami gw tidak mememuhi standar itu. Dari sample tesnya, terdapat 88% sperma bermorfologi abnormal.
”Inilah kenapa saya bersikeras, suami kamu harus diperiksa dulu sebelum kamu diberikan penyubur itu,” kata dokter kandungan gw begitu melihat hasil itu, yang kemudian langsung gw bombardir dengan tuntutan untuk memperjelas sejelas-jelasnya. Maka beliau pun melanjutkan, ”Sperma bermorfologi abnormal berarti memiliki bentuk yang tidak lengkap. Kemungkinan hanya ekor dan tanpa kepala. Padahal kepala spermalah yang membawa muatan genetik. Jika sperma yang seperti itu berhasil membuahi sel telur, dari kasus yang sudah-sudah, hanya akan menyebabkan keguguran,”
Tapi gw masih nggak puas dengan penjelasan seperti itu. Gw ingin tahu apa-yang-sebenarnya-terjadi, bukan hanya dampak akhir.
”Kamu tahu kromosom?” tanya sang dokter lagi, yang membuat gw mengerti kenapa dia tadinya ragu menjelaskan panjang lebar. Sepertinya beliau nggak yakin gw masih ingat pelajaran SMA dulu.
”Kromosom itu normalnya 22, kan. Nah...jika sperma yang berhasil membuahi sel telur bukan sperma yang bermorfologi normal, misalnya tanpa kepala yang bermuatan genetik itu, kromosom yang terbentuk akan kurang dari 22. Bisa 16, 18,...” Dokter menjelaskan sambil mencoret-coret di atas kertasnya, ”dan yang seperti ini pasti nggak akan lahir, pasti meninggal dalam kandungan dan harus digugurkan,”
”Kemungkinan paling bagusnya berkromosom 21, ini bisa lahir selamat, tapi...”
Gw membeku sebelum kata-kata itu selesai. Rasanya baru kemarin guru biologi SMA gw menjelaskan.
”........anak yang lahir itu akan menderita down syndrome. Jadi, jauh lebih baik kalau kamu nggak hamil sekarang. Tunggu suamimu diobati dulu, baru kamu menyuburkan diri,”
***
Adalah pelajaran tentang kebesaran Allah SWT yang disuapkan pada saat yang bersamaan dengan mulainya aku belajar menggunakan logika. Awalnya, semuanya terserap dan dapat kuterapkan tanpa kesulitan yang berarti. Namun seiring dengan semakin banyaknya ilmu yang dipelajari, semakin lebih banyaknya penggunaan logika berpikir untuk mempelajari semua ilmu itu, sempat aku merasa makin kehilangan kemampuan untuk mengerti tentang hubunganku denganNYA.
Pada akhirnya, saat sampai ku pada titik meragukanNYA setelah argumen-argumen panjang berbasis logika meluncur dari batinku, satu rasa yang tak dapat diterjemahkan oleh otak ini memberontak. Tuhan itu ada. Keraguan apapun yang muncul, yang satu itu takkan bisa terbantahkan olehku sendiri.
Kebesaran Allah SWT yang harus kupahami bukan lagi sebatas DIA menciptakan bumi tempatku berpijak dan menyediakan oksigen untuk nafasku, sebatas pelajaran-pelajaran agama di masa kanak-kanakku yang dapat dicerna semudah bubur. Di usia dewasa, ada begitu banyak hal yang tak mudah saat ku berusaha memahami kebesaranNYA.
NikmatNYA yang harus kusyukuri bukan lagi hanya makanan yang tersedia di meja atau nilai yang baik di sekolah yang dapat dengan mudah diterjemahkan otakku sebagai anugerah. Kini selain tawa, ada juga tangis yang membuat otakku terseok-seok mencari artinya, sementara sang hati telah lebih dulu berhasil bangkit, melesat berlari lalu mengerakkan sang bibir untuk mengucap ”Alhamdulillah...”
Hatiku sudah ikhlas jauh sebelum ilmu dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun adalah ikhlas dan tawakal, yang jauh berbeda dengan pasrah. Pencarianku tak pernah berhenti. Walaupun pada setiap pencarian itu, penemuanku hanya semakin menunjukkan kebesaranNYA.
Allahuakbar.
Allah Maha Besar, tak ada yang tak mungkin oleh kuasaNYA.
Allah Maha Tahu, bahkan saat manusia tak tahu apa yang terbaik bagi dirinya sendiri.
di atas sajadah yang basah karna sungai air mata yang tak berhenti mengalir,
- H e i D Y –