Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

let's share our love, life, and soul!

Blog EntryNov 9, '09 10:00 AM
for everyone

Warning! : Tulisan ini sama sekali bukan coretan singkat. Dengan usaha maksimal, saya telah merangkum, menyingkat kisah ini sedemikian rupa tapi sepertinya tidak terlalu berhasil untuk ’menjadi tulisan pendek’. Bagi yang sedang terburu-buru atau sedang malas membaca dan terlarut dalam ’cerita nggak penting’, saya sarankan sebaiknya Anda berhenti membaca sekarang juga. Adalah hak saya untuk menulis dan berbagi pada siapapun, tapi saya tahu bahwa anda juga berhak untuk tidak membacanya J

 

Pertama-tama sebelum memulai kisah pengalaman yang baru terlalui, ijinkan saya menyampaikan dahulu terimakasih dan penghargaan yang tak terkira bagi para saudara, sahabat, dan teman yang telah memberikan dukungan dalam bentuk apapun. Ya, mungkin tak banyak memang yang tahu persis tentang apa yang saya lalui itu. Tapi sungguh, rasa terimakasih ini tidak hanya ingin saya hantarkan pada mereka yang sungguh-sungguh tahu masalahnya dan ikut jungkir balik mendukung saya. Saya justru merasakan gelombang penghargaan yang luar biasa terhadap sikap teman-teman yang bahkan mendengar saya berkata ”maaf, gw belom boleh cerita, minta doanya aja ya...” saat mereka menanyakan apa yang terjadi, dan mereka tetap tersenyum, berbesar hati dan mengabulkan permintaan saya. Subhanallah...apakah ini juga salah satu maksudMu memberikan ujian itu padaku, ya Rabb? Untuk kembali mengingatkanku, bersyukur atas keberadaan hamba-hambaMu yang penuh cintakasih ini di sekelilingku? Alhamdulillah... dan terimakasih, teman-teman!

 

Kedua, saya mohon maaf yang sedalam-dalamnya jika pada masa yang telah lalu itu saya tidak hanya minta dibagi energi positif, tapi juga dengan seenaknya menyebarkan energi / aura negatif. Perwujudan energi ini mungkin berupa ekspresi pesimis, sinis, marah, kecewa, dan lain sebagainya yang bisa jadi saya tumpahkan saat bertemu muka langsung dengan orang lain, komunikasi via telepon atau internet, dan sebagainya. Semua itu berhasil kabur menyelinap dari usaha saya mengendalikan diri di bawah tekanan kala itu. Ah, sungguh tak disangka...hanya menghadapi cobaan yang mungkin telah menimpa banyak orang lain itu saja, saya sampai sedemikian terpuruknya. Bagaimana menghadapi masalah yang lebih besar nanti? Ck ck ck.  Astaghfirullah. Sekali lagi, maafkan saya teman-teman... 

 

Sesungguhnya, saya baru menemukan satu lagi bahan yang sangat sulit untuk ditulis : pengalaman atas rangkaian kejadian kali ini. Jika tulisan ini akhirnya selesai dan sampai di depan mata Anda, ketahuilah bahwa tulisan ini adalah sang pemenang. Tulisan yang telah mengesampingkan berpuluh-puluh baris tulisan yang sebelumnya telah diupayakan untuk bisa dibaca orang lain, namun gagal karena berbagai alasan : terlalu panjang, terlalu melelahkan, atau bahkan terlalu blak-blakan dan mungkin bisa jadi ancaman bagi si penulis sendiri (setelah adanya teman-teman sesama penulis yang terjerat hukum karena pencemaran nama baik). Selain itu, tulisan ini juga akan saya kenang sebagai pemenang atas beberapa hal lainnya : atas godaan untuk jatuh dan menyerah, atas godaan setan untuk menuruti nafsu, atas ujian terhadap cinta dan kasih sayang, atas ujian terhadap janji dan komitmen, atas ujian bagi seorang wanita yang ingin naik kelas untuk menjadi satu tingkat lebih kuat, mandiri dan dewasa. 

 

Kini, saya menulis ulang apa yang sudah berkali-kali saya coba tulis ini dengan dibantu berbagai pemompa tekad dan semangat. Salah satunya adalah sebuah momen istimewa kami yang baru berlalu: hari ulang tahun ke dua pernikahan saya dan Hamdan. Apa yang saya tulis ini adalah salah satu sharing saya sebagai bagian dari sepasang suami istri, dan saya merasa jika saya terus menerus menghindar, mundur dan masih belum mengerahkan segenap usaha dalam menuangkan isi pikiran tentang ini, maka itu berarti saya belum benar-benar menyukuri perjalanan berdua yang dianugerahkan pada kami selama dua tahun ini. 

 

Teman-teman yang membaca tulisan-tulisan saya sebelumnya mungkin sudah tahu bahwa topik tentang berketurunan adalah topik yang akrab dalam hidup saya dan suami. Pada tahun pertama pernikahan, selain menghadapi tantangan beradaptasi dengan pasangan serta mertua dan keluarga besar seperti pasangan lainnya, kami juga menghadapi ujian atas topik yang agak sensitif itu. Mulai dari bagaimana mengendalikan emosi setiap kali membaca hasil testpack yang hanya bergaris satu, berdamai dengan kecocokan saling bertemu saat masa subur (karena kami menjalani a long distance marriage), sampai menanggapi orang-orang yang ’terlalu ramah’. Alhamdulillah dengan ridha-Nya, setelah lewat setahun, kami sampai pada sebuah titik damai atas masalah-masalah umum pengantin baru itu : mampu mengendalikan emosi, bersabar dan bersikap santai saat menghadapi orang lain. Tidak ada lagi berlama-lama dengan sentimentil menatap sebatang test pack yang baru dipakai. Tidak ada lagi pertengkaran-pertengkaran kecil tentang jadwal pulang suami (dan hubungannya dengan masa subur), dan tidak ada kedongkolan saat menghadapi orang-orang yang ’sangat rajin bertanya’. Saya menyadariya setelah beberapa bulan berlalu dengan perasaan yang lebih enteng dan bersyukur dalam hati : alhamdulillah, kami sudah naik kelas dari level ’pengantin baru’.

 

Namun naifnya saya saat itu, mengartikan kata-kata yang sering diucapkan orang bahwa ’tahun pertama adalah masa terberat bagi pengantin baru’ sebagai petunjuk bahwa biasanya suami istri akan tenang-tenang saja tanpa ujian-ujian lain di tahun-tahun berikutnya! Bukankah setiap orang sudah seharusnya mengalami berkali-kali ujian kenaikan kelas sebagai bagian dari proses pendewasaannya yang tak seharusnya berakhir sebelum akhir hayatnya? Pada sekitar pertengahan tahun yang baru saja berlalulah saya menyadarinya. Ujian ’kenaikan ke kelas dua’ telah dimulai.

 

Sejak beberapa minggu sebelumnya, saya dan suami sudah merencanakan keberangkatan ke negri jiran untuk mencari 2nd opinion dari dokter atas kondisi kesehatan saya (bukan penyakit gawat, lebih lanjut saya ceritakan pada tulisan lainnya) pada bulan Juli kemarin. Rencana lama untuk berobat ini akhirnya kami tekadkan untuk bisa diwujudkan pada bulan tersebut karena faktor lain : Hamdan mendapat kesempatan mengikuti training selama seminggu di negeri jiran. Sesungguhnya niat awal kami adalah berobat ke Singapore. Tapi sayangnya, negri tujuan tempat dilakukannya training itu adalah Malaysia. Keengganan kami yang amat sangat untuk ’menyumbang devisa’ pada negara yang belakangan makin sering membuat dongkol bangsa kita itu akhirnya mengalah pada pertimbangan waktu dan biaya ; tidak baik bagi kondisi saya untuk ters menunda-nunda mencari 2nd opinion itu, biaya transportasi dan akomodasi yang lebih murah (karena bagian Hamdan dibayari perusahaannya), dan kesempatan yang belum tentu datang dua kali.

 

Namun ketika waktunya tiba, rencana yang sudah disusun rapih itu gagal terwujud. Sekitar 10 hari sebelum jadwal keberangkatan, Hamdan pulang lebih cepat dari Balikpapan. Ia tiba di Jakarta pada malam hari dalam keadaan yang membuat saya ingin menangis : berwajah merah, lesu, lemas (sampai tak kuat mengangkat gelas minumnya), mengeluh sakit di tenggorokan dan nyeri di sekujur badan, serta batuk-batuk bersuara memilukan. Berdasar pada kecemasannya sendiri, esok paginya saya langsung membawanya ke rumah sakit milik pemerintah khusus penyakit infeksi di Sunter untuk diperiksa lebih teliti dan mendapat diagnosa yang tepat.

 

Yang terjadi kemudian begitu cepat dan nyaris seperti mimpi. Tiba-tiba saja suami saya harus mendekam di ’penjara’ dengan alasan bahwa beliau telah menjadi bagian dari ancaman yang membahayakan keselamatan negara. Untuk menilai apakah saya berlebihan jika menyebutnya demikian, berikut penjelasan saya yang lebih detil :

Hamdan mengalami gejala flu berat yang bisa saja bukan merupakan flu biasa, melainkan flu A H1N1. Menurut dokter yang ’menyambut’nya, dibutuhkan waktu 4 hari untuk mendapatkan kepastian jenis flu yang diderita. Namun karena gejala flu sudah timbul, tentu saja selama itu Hamdan tidak boleh berkeliaran seenaknya karena sudah bisa menularkan. Ia harus menginap di ruang perawatan yang terisolasi, tidak boleh dijenguk apalagi ditunggui siapa pun. Yang sesekali keluar-masuk kamarnya hanyalah dokter dan suster yang selalu mengenakan pakaian seperti astronot (pakaian tebal menutupi seluruh tubuh, termasuk pelindung rambut seperti shower cap, kacamata pelindung serta masker hidung dan mulut). Lalu karena seluruh biaya yang berhubungan dengan kasus flu A H1N1 ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah, maka jangan mengharapkan fasilitas yang lebih dari seadanya : jendela tanpa gordyn, AC central yang bagi sebagian pasien terlalu dingin namun terlalu panas bagi sebagian lainnya,  selimut tipis, kamar mandi tanpa fasilitas air panas yang tak memungkinkan sebagian besar penderita flu untuk mandi, serta makanan yang tak mengundang nafsu makan.

 

Pada saat-saat pertama, Mama sempat menghibur dengan mengingatkan bahwa saya sudah biasa hidup terpisah dengan suami...anggap saja ini juga begitu, seolah-olah dia belum pulang dari Balikpapan. Teori itu masuk akal, tapi ternyata langsung ditolak oleh situasi kondisi yang jauh melebihi itu. Yang terberat bagi saya bukan soal keterpisahannya, melainkan banyak hal lain yang tak terbayang sebelumnya :

-          Menenangkan dan menghibur suami atas ketidaknyamanannya di ruang isolasi tersebut (banyak nyamuk, AC terlalu dingin dll) sekaligus berusaha meminta bantuan penanganan atas ketidaknyamanan tersebut via panggilan telepon. Ini jelas tidak mudah, karna saya kehabisan kata-kata penghibur/penenang sementara pihak rumah sakit idak pernah berhasil dihubungi.

-         Menanggapi keberatan-keberatan suami yang semakin menjadi dan akhirnya berujung pada permintaan keluar secara paksa dari ruang perawatan. Untuk masalah ini ternyata saya tidak hanya harus menghadapi perawat, dokter dan satpam...tapi pihak PEMERINTAH. Karena menjadi suspect penyakit yang sedang sangat diwaspadai penularannya, maka jika Hamdan keluar kami harus menandatangani sebuah surat pernyataan di atas materai (yang kurang lebih mengindikasikan kalau nanti Hamdan terbukti positif dan tidak terisolasi lalu bermunculan penderita-penderita flu A H1N1 lainnya di lingkungan sekitar, maka itu akan menjadi tanggung jawab kami).

-         Menerima sikap dingin Hamdan begitu ia mengalah setelah dibujuk rayu seluruh pasukan (saya, Mama-Papa, Ibu-Bapak) untuk tidak keluar paksa dari RS. Ia memang tidak memaksa pulang lagi, tapi tidak juga menunjukkan rasa ikhlas mendekam di ruang perawatan itu. Saya merasakan kekesalan dan kegeramannya ditumpahkan pada saya lewat sikapnya yang sangat dingin. Hal ini juga membuat saya kembali belajar dan memahami lagi istilah ‘Men are from Mars, Women are from Venus”. Semua usaha yang saya lakukan didasarkan pada bayangan saya sendiri (seandainya saya yang ada di posisi suami, apa yang saya inginkan untuk meringankan perasaan tersiksa itu) : memanjakannya dengan berbagai bentuk perhatian dan fasilitas. Tapi ternyata, semua itu sama sekali berbeda dengan yang diinginkannya.  Setiap hari saya berusaha untuk lebih kuat dengan perasaan-perasaan yang menyiksa (bahwa saya merasa tidak berguna. tidak dapat mengurangi beban suami, tidak mampu memanjakannya, dan bahkan lumpuh dalam hubungan komunikasi). Mau tidak mau kelegaan dan kegembiraan saya ketika Mama-Papa berhasil mengajak Hamdan ngobrol sampai tertawa-tawa juga terkotori rasa iri : kenapa bukan saya yang membuatnya begitu. Mama dan Ibulah yang menentramkan hati saya kemudian dengan kata-kata mereka yang bijaksana. Ternyata saya bukannya tidak bisa memanjakan suami. Hanya saja, ’manja’nya dia tidak sama dengan bagaimana kemanjaan saya terhadapnya. Bahwa ia bersikap dingin dan menumpahkan ekspresi kekesalannya pada saya, itulah bentuk sikap manjanya yang tidak ditujukan ke semua orang, melainkan pada yang terdekat dengannya saja.

-          Bersabar dengan sikap Hamdan yang aneh (mungkin saking stresnya beliau) : menolak untuk keep in touch dengan teman-temannya saat sedang terisolasi. Dalam pikiran saya, ’jengukan’ teman-teman via telpon, sms, atau jalur dunia maya pasti akan sangat menghibur dan mengobati keterisolasiannya. Tapi ternyata, tidak. Saya sudah memberitahu beberapa teman terdekat ketika Hamdan menyatakan dengan tegas bahwa ia sedang malas bersosialisasi. Buru-buru saya mencegah teman yang tahu untuk menghubunginya dan untuk memberitahu teman yang lain. Saya pun mati-matian menahan diri untuk tidak bercerita pada teman-teman lainnya.  

-         Tetap kuat dan mantap melangkah kesana kemari memperjuangkan hasil pemeriksaan (yang harusnya sudah ada, tapi tertahan karna birokrasi sana-sini dan sistem/kebijakan yang ajaib!) meskipun dukungan moral dari suami yang saya harapkan mengalir seperti biasanya sedang ’libur’. Boro-boro menghibur atau menyemangati, yang ada malah konsisten bersikap dingin. Tentu bukan salahnya, karna sepertinya si-kon sudah sedemikian menyiksa dirinya. Tapi wajar kan, kalau saya tetap mengharapkan ’transfer energi’ darinya?

-         Bersikap ikhlas dan secepatnya menguasai diri begitu mendapatkan hasil pemeriksaan yang sama sekali di luar dugaan. Oya, sepertinya penyebab terbesar Hamdan semarah itu (yaa...sikap dingin itu jelas marah, tapi sepertinya ditahan sekuat tenaga) adalah karna ia diisolasi sementara ia yakin 99,99% bahwa ia tak mungkin positif flu A H1N1. Ia hanya merasa cemas kemungkinan flunya adalah flu A H1N1 karena ada teman kerjanya di platform lain yang juga sudah menjadi suspect flu tersebut, tapi toh mereka tak pernah bertemu atau berada dalam satu area. Kesalahpahamanlah yang membuat dokter rumahsakit yang pertama kali melakukan pemeriksaan menyatakan ia sebagai suspect flu A H1N1 (Setelah itu ia menyesal sedalam-dalamnya karna telah sukarela pergi ke rumahsakit tsb! Siapa sangka jalannya akan mengarah kesitu?). Naah....itulah mengapa, pada hari ketika akhirnya saya mendapatkan hasil pemeriksaan, saya nyaris pingsan di tempat. Sang kepala lab langsung yang menemui saya dan memberikan jawaban : Hamdan positif terinfeksi flu A H1N1. Hanya Tuhan yang tahu kapan, di mana dan dari mana ia bisa tertular virus yang amat menyusahkan tersebut.

-         Demi keamanan dan kenyamanan bersama, merahasiakan hasil pemeriksaan Hamdan yang sebenarnya dari banyak orang : teman, keluarga besar / kerabat jauh, tetangga, dan...pers! Sebenarnya, saya orang yang lebih senang berterus terang. Selama ini hampir tidak ada kisah kehidupan pribadi yang saya tutupi karna saya senang berbagi (dan lagipula saya kan bukan selebriti...kisah saya tidak ada yang menghebohkan dan saya juga tidak punya sejuta fans). Tapi itu kisah saya. Lain halnya dengan kisah orang lain. Kalau si empunya kisah belum memberi izin untuk menceritakan kisahnya kembali, sampai mati pun saya akan membawa rahasia itu ke liang kubur...sekalipun saya harus berbuat dosa yang lain : berbohong. Semoga Allah SWT mengerti dan mengampuni saya. Dalam kasus ini, selain keengganan Hamdan (saat itu) atas pemberitaan kondisi dirinya...saya juga menemukan banyak hal yang memperkuat alasan mengapa saya harus melindungi kerahasiaan kondisi kesehatan Hamdan. Yang pertama menyadarkan saya adalah dokter kepala lab yang sangat baik hati. Beliau berkata bahwa beliau mau khusus keluar dari labnya menemui saya karna saya adalah istri pasien. Biasanya, yang datang adalah pers yang sedang gencar-gencarnya mencari berita flu A H1N1 (sementara keluarga pasien bahkan tidak tahu bahwa bisa mengetahui hasil lab lebih cepat dari sana). Yang kedua, saya mengalami sendiri : dikejar wartawan saat sedang di rumah sakit, diprovokasi untuk memberikan pendapat! Yang ketiga yang sungguh amat sangat saya sesalkan...para kerabat dan tetangga yang saya cintai belum mendapat cukup pengetahuan saat itu. Begitu tahu Hamdan dibawa ke rumah sakit dan tidak pulang-pulang, berita Hamdan terjangkit virus itu langsung menyebar (padahal waktu itu hasilnya belum diperoleh!) dan langsung menjaga jarak dengan saya dan pembantu saya yang sehat walafiat. Maka wajar kan, jika saya tak mau repot-repot memberitahu mereka bahwa Hamdan dinyatakan positif terkena flu babi?

-          ’Bertahan dalam perang’. Ada alasan kuat mengapa dengan beban yang saya akui tidak ringan di atas, saya tidak larut dalam rasa sedih dan stres, atau tepatnya, tidak boleh. Begitu mengetahui Hamdan dinyatakan positif menderita flu A H1N1 hari ketiga isolasinya dan tahu bahwa saya adalah orang yang berkemungkinan paling tinggi tertular (karena ia sempat tidur sekamar dengan saya sebelum diisolasi) namun juga sekaligus masih sangat mungkin menolak serangan virus yang masih berinkubasi tersebut, saya justru langsung bangkit dengan kesadaran tinggi : I have no time to feel sad and cry. My top priority is to stay healthy. I have to be strong…for me, for my beloved life partner, and for those who care for us. Lebih lagi, saya merasa perlu membuktikan, terutama pada kerabat dan tetangga, bahwa mereka yang tidak pernah kontak langsung dengan Hamdan saat sakit tidak perlu takut (wong saya istrinya yang sempat merawatnya langsung tanpa pelindung baik-baik saja!) dan bahwa menjauhi saya dan pembantu saya yang 100% sehat adalah konyol (selama belum ada gejala, walaupun saya sudah terkontaminasi, tidak mungkin orang bisa tertular flu itu dari saya!). Pelaksanaannya memang jauh lebih sulit daripada pengucapan niat itu. Normalnya, rasanya saya tidak mungkin bisa tetap sehat walafiat tegak berdiri saat beban pikiran dan perasaan membludak. Bukankah untuk memelihara daya tahan tubuh, sebelumnya kita perlu memelihara pikiran dan jiwa yang sehat? Tapi lagi-lagi, yang tampak tak mungkin belum tentu mustahil. Dengan tekad dan usaha yang diridhoi Allah SWT yang Maha Kuasa, saya mampu bertahan dari virus yang telah masuk ke tubuh saya dan mencoba menyerang (I did not let even a single chance to attack). Hingga masa inkubasi lewat dan Hamdan dinyatakan sembuh, alhamdulillah saya pun tetap sehat walafiat tanpa sedikit pun gejala penyakit flu.

 

Begitulah. Mudah-mudahan saya tidak berlebihan menganggap peristiwa flu A H1N1 yang menimpa Hamdan itu sebagai suatu pengalaman yang luar biasa bagi kami berdua...sebuah ujian sekaligus anugerah dari Allah SWT. Meskipun rentang waktunya tak lama (hanya 8 hari), tapi begitu banyak hikmah yang diperoleh. Saya merasa kemanjaan terhadap suami selama ini disulap dalam sekejap menjadi kemandirian. Dalam waktu singkat, saya banyak belajar tentang sabar dan ikhlas. Dan Subhanallah...di saat dan dengan cara yang tak terduga seperti itu, saya justru mendapat tambahan pemahaman atas arti dan besarnya cinta itu. Saat suami sakit, seolah seperti sayalah yang sedang berjuang, melakukan berbagai pengorbanan, menunjukkan besarnya cinta saya padanya. Padahal sebenarnya tidak demikian. Bahkan saat air mata saya masih turun selagi menghadapi ujian itu, saya sudah memahami dan merasakan sepenuh hati, betapa besarnya cinta dan kasih sayang suami pada saya selama ini (....dan seperti cermin, akan kutunjukkan apa dan sebesar apa yang kau berikan padaku selama ini....)

 

For all the joy you brought to my life..

For all the love I found in you..

I’ll be forever thankful, baby..

You’re the one who help me out,

Never let me fall..

You are my strength when I was weak,

You are my voice when I couldn’t speak,

You are my eyes when I couldn’t see

You saw the best that was in me.

Lifted me up when I couldn’t reach,

You gave me faith cause you believe..

I’m everything I am, because you loved me.

 

[dari "Because You Loved Me" - Celine Dion]

 

 

 

- H e i D Y -


12 CommentsChronological   Reverse   Threaded
orangketiga wrote on Nov 9, '09
(tickled to say something witty, but my jaw dropped. far, far below)

Dy. Kau membuat Allah semakin sayang padamu.
sepuluhseptember wrote on Nov 9, '09, edited on Nov 10, '09
hiks.. Amiiinn... Makasi Fan, sebetulnya waktu nulis bagian awalnya ku teringat dirimu yang peka dan waktu itu sempat nanyain kabar tapi belum bisa kujawab. Thanks untuk doamu dulu, thanks for being such a good friend. Smoga Allah pun makin sayang padamu. Amiin...
wijiwinnie wrote on Nov 9, '09
haduh dy, kesian bgt sih gara2 org2 kurang info tentang H1N1 jdnya malah kaya penyakit AIDS gitu perlakuannya. Gpp kok dy, badai pasti berlalu kan? :D. Banyak ujian berarti diberi banyak kesempatan utk jadi kaya dengan belajar
sepuluhseptember wrote on Nov 9, '09
iya Jie..bgitulah keadaannya d negri ini..tp itu pas lg heboh2nya bln Juli kmrn sih,skrg udah mayan reda.. Alhamdulillah badai emg uda brlalu n byk pelajaran yg dperoleh dr situ :)
mataharikumataharimu wrote on Nov 10, '09
Masyaallah.. Heidi, nggak kebayang tegarnya kamu seperti apa pada waktu itu, salut!
semoga Allah mengangkat derajatmu & memberikan kesehatan terus buat Hamdan ya.. =) kebayang deh betapa cintanya DIA sama kamu.. =) =)
sepuluhseptember wrote on Nov 10, '09
amiin..makasi doanya ya De.. Alhamdulillah smua itu bs kulewati jg karna Allah..smg kita smua mampu kmbali pdNYA saat mghadapi hal spt apapun ya..amiin
bundatengil wrote on Nov 10, '09
ya ampuun, semoga Hamdan cepet sembuh yaa..titip doa..
sepuluhseptember wrote on Nov 10, '09
itu crita lama ko Asti,n cma bntar jg..skrg si alhamdulillah uda smbuh n bebas (dpt srtifikat lho,uda kek apaan aja..haha). Thx anyway..
nikinikado wrote on Nov 10, '09
alhamdulillah sekarang udah gpp :) semoga kalian selalu ada dalam lindungan-Nya.. aamiiin.. oh iya, nitip pesen ke hamdan, jangan bawa oleh2 virus flu lagi dari amrik ntar :D
sepuluhseptember wrote on Nov 10, '09
iya alhamdulillah..amiin,makasi doanya Nik! Waduh iya jgn smpe dh..gw tantangin tiap hr tuk brstamina oke jd ga gampang tumbang walo skitarnya sakit (ceunah bosnya dsana lg flu pula! Hik!)
orangketiga wrote on Nov 10, '09
Ah, Hamdan mah kalau dari Amrik bawanya virus laen: virus pemikiran! Ghazwul fikr. Astaghfirullah. *hyahahaha, kaburr
* >:D
sepuluhseptember wrote on Nov 11, '09
Ah, Hamdan mah kalau dari Amrik bawanya virus laen: virus pemikiran! Ghazwul fikr. Astaghfirullah. *hyahahaha, kaburr
* >:D
Ugh! Nemu juga kau celahnya! Never give up yah...
Add a Comment
   
© 2012 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · API · Help · Sitemap

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.